Antologi perdanaku
Okey.. post perdana! saya mau promosi buku antologi cerpen... Don't forget to buy it! hehe
Judul Buku : Jangan Bersedih Karena Hidup Ini Indah
(Kumpulan Cerita Pendek)
Penulis : Puput Happy, Endang SSN, Dee Ann Rose, Riskaninda Maharani, dkk
Penerbit : Puput Happy Publishing
Cetakan : Cetakan Pertama, September 2012
Isi :
v + 303 Halaman; 13 x 19 cm
ISBN : 978-602-18504-5-9
Harga : Rp 50.000,-
Sinopsis
“Rabb, bimbing aku dalam pelukanMu. Raih jiwaku dalam dekap hangatMu. Sungguh tak kuasa kujelajahi hati. Menakar segala yang terjadi dalam secawan rasa yang kumau. Ada gemuruh yang mengusik dinding kalbu, mencoba pertahankan masa yang ternyata telah salah kuartikan. Rabb, detikku kian tak berdetak. Nadiku tak lagi terjamah indah, rindu menutup poriku. Laraku semakin membuncah dalam bukit sesal yang menjerat. Aku luruh, luluh dan kaku dalam beranda kasihMu malam ini.”
Kumpulan cerita pendek penggugah jiwa hadir kepada pembaca. Tentang kisah suka dukanya kehidupan, yang pada akhirnya bermuara pada indahnya kehidupan. Tak usah bersedih, karena hidup ini indah ….. ^_^
Info Buku: http://puputhappy-publishing.blogspot.com/2012/09/jangan-bersedih-karena-hidup-ini-indah.html
NB: Buku sudah bisa dipesan via inbox FB Futicha Turisqoh II atau SMS ke 085642560633.
— with Hermawan W Saputra and 49 others at Tegal. Jawa Tengah.
Kontributor: 1.@Endang Ssn – Kemenangan Hati (Sebuah Denting Rasa)
2. Dee Ann Rose – Lingkar Kebahagiaan
3. Riskaninda Maharani – Kaulah Takdirku
4. Risa Mutia – Sonata di Hati Puput
5. Kakaakin – Berbahagialah, Put!
6. Humaira fii Hamra – Karena Namaku Happy
7. Nila Prasetya Rahajeng – Selamat Ulang Tahun, Puput dan Happy
8. Husril M. Syah - Liontin Februari
9. Nurdwi Ratnasari – Berlarilah, Put!
10. Eramayawati – Tersesat dalam Dunia Maya
11. Faujiah Lingga – Me vs Puput
12. Isnaeni DK – Seharum Kesabarannya
13. Nofriani – Ikhlas
14. Nurus Sa’adah Tamyizy – Puput dan Gadis Kecil di Kota Rinai
15. Bee – Put, You ‘re My Bestfriend
16. Bayu Ari Wibowo – Wilujeng Sumping Ibu
17. Nezha El Zahra – Sahabat dalam Rajutan Kasih
18. Shabriyah Akib – Hadiah untuk Ombak
19. Helmi A – Pelajaran untuk Puput
20. Eri Siti Sarah – Sepotong Pelangi Februari
21. Nenny Makmun – Sebuah Kejujuran
22. Nur Hanifah – Meaning of Life
23. Diana Kurniasari – Love Story
24. Novia Krisdianti – Pelangi Tak Berwarna
25. Noviana – An Imperfect Life
“Cahaya di Atas Cahaya,” Buku ke 3 Oki Setiana Dewi
Oki Setiana Dewi Pada Press Conference Buku Cahaya diatas CahayaMinggu Tanggal 24 Juni 2012, saya dan beberapa orang Kompasianer memenuhi undangan Press Conference dari Babeh Helmi, menghadiri acara launching buku terbaru Oki Setiana Dewi (Salah satu Pemain Film ‘Ketika Cinta Bertasbih‘) yang memerankan Ana Alfathunisa. Buku Cahaya diatas Cahaya ini adalah buku ketiga yang Best Seller setelah ‘Melukis Pelangi’ dan ‘Sejuta Pelangi’.
Cerita dalam buku ini sebagian besar adalah kisah nyata Oki Setiana Dewi saat menuntut ilmu di negeri yang dicintainya yaitu Makkah, disalah satu Universitas bernama Ummul Quro. Perjalanannya saat menuntut ilmu disana bertemu berbagai kejadian yang membawanya kedalam perjalanan spiritual, seperti ujian demi ujian yang bahkan sempat menggoyahkan prinsipnya dan sempat ragu apakah harus bertahan sampai selesai study atau pulang saja, beruntung sahabatnya dari berbagai negara saling memberi semangat dan dukungan sehingga Oki mampu bertahan disana.
Teman-teman Oki yang datang dari berbagai negara bercerita tentang Islam di negaranya masing-masing, cerita Asma dari Perancis cerita bahwa di negaranya pergerakan untuk melakukan ibadah sangat banyak tantangan baik secara mental maupun sosial. Tapi ia tetap semangat dan berusaha untuk menjadi muslimah yang konsisten dan bersikap baik dalam perilakunya untuk membuktikan bahwa Islam tak identik dengan teroris di negaranya.
Kisah perjuangannya dalam mencapai goal-nya untuk memperoleh kesempatan kuliah di Makkah, berawal dari selalu menuliskan mimpi-mimpinya dalam buku diary, secara konsisten Oki mewujudkan impiannya dengan usaha yang bertahap dengan cara bekerja keras, mencari peluang yang konsisten juga doa yang tak putus, perjuangan , keyakinan dan kegigihannya tak sia-sia, akhirnya Man Jada Wa Jadda Oki memperoleh apa yang diimpikannya.
Motivasi Oki menuntut ilmu di Makkah ingin mempelajari Ilmu Allah secara mendalam dan setamat menuntut ilmu disana ingin membagi ilmu yang diperolehnya kepada saudara-saudara di tanah air dengan berbagi inspirasi melalui cerita di bukunya. Yaitu Cahaya diatas Cahaya.
Buku ketiga Oki setiana Dewi ini sangat recomended untuk dibaca karena isinya tak hanya inspiratif untuk perempuan saja. Bagi seluruh individu bisa tersulut dan bangkit untuk terus berusaha dalam situasi apapun untuk mewujudkan cita-cita dunia akhirat. Dalam buku ini membuktikan bahwa Allah SWT selalu memberi pada umatnya yang sungguh-sungguh dan Rahmatnya selalu turun tak semata melalui materi namun melalui ilmu bermanfaat yang akan membawa kita pada keberhasilan yang abadi dunia akhirat.
Sesuai anjuran agama bahwa kita jika mempunyai ilmu bermanfaat ada baiknya dibagi kepada semua orang dan disekitar kita agar ilmu yang kita punya dapat menjadi cahaya kebaikan. Buku ini menuntun kita untuk melakukannya dengan segera.
Buku Ke 3 Karya Oki Setiana Dewi
Judul Buku : Cahaya Diatas Cahaya
Penerbit : Mizania Publishing
Jumlah Halaman : 344
“Laskar Pelangi” Dipuji Akademisi Amerika
Selasa, 26 Oktober 2010 13:29 WIB | Hiburan | Buku/Novel | Dibaca 2898 kali
Andrea Hirata (Istimewa/ANTARA)Jakarta (ANTARA News) – Novel Laskar Pelangi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dan beredar di Amerika Serikat dengan judul “The Rainbow Troops” mendapatkan pujian dari akademisi sastra dari University of Iowa di negeri Paman Sam tersebut.
“The Rainbow Troops mendapat pujian dari Christopher Merril, akademisi sastra di University of Iowa Amerika Serikat,” kata Andrea Hirata yang kini tengah berada di Amerika Serikat melalui surat elektronik yang diterima ANTARA di Jakarta, Selasa.
Andrea menjelaskan, Christopher Merril adalah direktur International Writing Program di University of Iowa Amerika Serikat dan merupakan salah seorang yang telah membuat Iowa terpilih menjadi “Unesco city of literature”.
“Sebenarnya amat susah mendapatkan pujian dari dia. Dari 34 penulis International Writing Program di University of Iowa tahun ini hanya aku yang dapat pujian,” kata Andrea dalam surat elektroniknya.
Menurut Andrea, pujian tersebut membuatnya makin percaya diri dan lebih banyak bersyukur.
“Alhamdullilah, membaca komentar Chris ini terus terang aku makin percaya diri, karena orang seperti dia tidak sembarangan memberi pujian. Kurasa inilah momen aku paling percaya diri selama terjun ke dalam dunia sastra ini,” katanya.
Pujian tersebut rencananya akan dipasang di halaman depan novel The Rainbow Troops edisi berikutnya, sebab edisi pertama yang beredar di Amerika telah hampir habis terbeli.
Menurut Andrea, pengakuan dari akademisi Amerika terhadap novel Laskar Pelangi menegaskan bahwa karya sastra dari Indonesia bisa juga berjaya dan diakui di luar negeri.
“Tinggal keseriusan kita untuk belajar dan memahami riset dalam menulis,” katanya.
Andrea juga menyebutkan, Christopher Merril mengatakan bahwa The Rainbow Troops merupakan prestasi yang mengesankan serta merupakan sebuah karya yang kuat dari imajinasi yang menyapu kehidupan di Pulau Belitong.
Andrea juga dianggap berhasil menciptakan karakter yang mengesankan dan jalan cerita yang menakjubkan.
Sementara itu, penulis tetralogi Laskar Pelangi Andrea Hirata pada saat ini tengah berada di Amerika karena mendapatkan beasiswa program menulis internasional di Iowa University.
Ia akan berada di Amerika Serikat hingga 16 November. Dan Andrea merupakan satu dari 13 orang dari sejumlah negara yang mendapatkan kesempatan baik tersebut.
(ANT/A024)
COPYRIGHT © 2010
http://www.antaranews.com/berita/1288074552/laskar-pelangi-dipuji-akademisi-amerika
JAKARTA – Novel Laskar Pelangi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dan beredar di Amerika Serikat dengan judul “The Rainbow Troops” mendapatkan pujian dari akademisi sastra dari University of Iowa di negeri Paman Sam tersebut.
“The Rainbow Troops mendapat pujian dari Christopher Merril, akademisi sastra di University of Iowa Amerika Serikat,” kata Andrea Hirata yang kini tengah berada di Amerika Serikat melalui surat elektronik yang diterima ANTARA di Jakarta, Selasa.
Andrea menjelaskan, Christopher Merril adalah direktur International Writing Program di University of Iowa Amerika Serikat dan merupakan salah seorang yang telah membuat Iowa terpilih menjadi “Unesco city of literature”.
“Sebenarnya amat susah mendapatkan pujian dari dia. Dari 34 penulis International Writing Program di University of Iowa tahun ini hanya aku yang dapat pujian,” kata Andrea dalam surat elektroniknya.
Menurut Andrea, pujian tersebut membuatnya makin percaya diri dan lebih banyak bersyukur.
“Alhamdullilah, membaca komentar Chris ini terus terang aku makin percaya diri, karena orang seperti dia tidak sembarangan memberi pujian. Kurasa inilah momen aku paling percaya diri selama terjun ke dalam dunia sastra ini,” katanya.
Pujian tersebut rencananya akan dipasang di halaman depan novel The Rainbow Troops edisi berikutnya, sebab edisi pertama yang beredar di Amerika telah hampir habis terbeli.
Menurut Andrea, pengakuan dari akademisi Amerika terhadap novel Laskar Pelangi menegaskan bahwa karya sastra dari Indonesia bisa juga berjaya dan diakui di luar negeri.
“Tinggal keseriusan kita untuk belajar dan memahami riset dalam menulis,” katanya.
Andrea juga menyebutkan, Christopher Merril mengatakan bahwa The Rainbow Troops merupakan prestasi yang mengesankan serta merupakan sebuah karya yang kuat dari imajinasi yang menyapu kehidupan di Pulau Belitong.
Andrea juga dianggap berhasil menciptakan karakter yang mengesankan dan jalan cerita yang menakjubkan.
Sementara itu, penulis tetralogi Laskar Pelangi Andrea Hirata pada saat ini tengah berada di Amerika karena mendapatkan beasiswa program menulis internasional di Iowa University.
Ia akan berada di Amerika Serikat hingga 16 November. Dan Andrea merupakan satu dari 13 orang dari sejumlah negara yang mendapatkan kesempatan baik tersebut.
Sumber: Antara, 26 Oktober 2010 http://indonesiabuku.com/?p=7421
Book Review: Perahu Kertas by Dee
.Perahu Kertas by Dee
Judul Buku : Perahu Kertas
Penulis : Dee
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 456 Halaman
Tahun Terbit:
Harga: Rp 58,650 (http://www.pengenbuku.net/)
Rating: 4.5/5
Movie Adaptation Trailer & Soundtrack here.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Hari ini aku bermimpi.
Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku.
Sejak kamu membuatkanku ilustrasi-ilustrasi ini, aku merasa mimpiku semakin dekat.
Belum pernah sedekat ini.
Hari ini aku juga bermimpi.
Aku bermimpi bisa selamanya menulis dongeng.
Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu.
Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi."
Kugy, seorang gadis mungil yang ceria, tidak peduli pada penampilannya, selalu berantakan, dan adalah seorang pengkhayal. Ia mempunyai sebuah impian untuk menjadi penulis dongeng, cita-cita yang selalu ada namun tak pernah benar-benar terwujud. Lewat sahabat-sahabatnya, Noni dan Eko - yang adalah sepasang kekasih, Kugy dibawa bertemu dengan seorang lelaki bernama Keenan. Keenan adalah sepupu Eko yang baru saja kembali pulang ke Jakarta setelah beberapa waktu tinggal di Amsterdam. Meskipun Ayah Keenan sama sekali tidak setuju, Keenan sebenarnya mempunyai jiwa artistik yang luar biasa. Perjumpaan antara Kugy dan Keenan seolah memang takdir. Keduanya sama-sama pemimpi. Dan bersama-sama, keduanya melalui perjalanan panjang menuju pewujudan mimpi mereka.
Waktu pun berlalu, persahabatan mereka semakin erat, dan dalam hati mereka masing-masing tumbuh perasaan yang berbeda. Akan tetapi saat itu Kugy sedang menjalin hubungan dengan pacarnya, Ojos. Status Keenan yang masih single membuat Noni dan Eko berencana menjodohkan lelaki itu dengan seorang perempuan bernama Wanda. Tidak perlu diragukan, Wanda adalah perempuan yang sangat cantik; dan ia sangat mengerti seni lukisan. Meskipun hati Kugy terluka mengetahui keakraban antara Keenan dan Wanda, ia sama sekali tidak berhak untuk mengatakan apapun - dan yang bisa ia lakukan hanya menghindar. Persahabatan antara Kugy dan Keenan pun perlahan mengendur; masing-masing menjalani kehidupan mereka sendiri. Perasaan yang sempat tumbuh seolah tidak mungkin diraih kembali - sama seperti mimpi-mimpi mereka.
"Ia tahu betapa mahal pengorbanan yang diberikan anaknya. Keenan lagi-lagi terpaksa membunuh semua mimpinya, cita-citanya. Menanggalkan kuas, kanvas, dan cintanya."
"Kugy pun nyaris berhenti menulis. Tak peduli lagi dengan ambisinya menjadi penulis dongeng. Daya khayalnya tergantikan oleh rangkaian pikiran logis yang bekerja mekanis bagai robot untuk belajar, belajar, dan hanya belajar."
Banyak hal berubah seiring dengan waktu. Kugy yang lulus lebih awal langsung memutuskan untuk mencari pekerjaan - dan ia mendapatkan pekerjaan yang baik di sebuah perusahaan advertising. Kugy pun jadi mengenal atasannya yang bernama Remi, seorang lelaki yang dipuja oleh banyak perempuan. Sedangkan Keenan yang menetap di Bali terus-menerus berkarya; ia pun dipertemukan dengan seorang perempuan Bali bernama Luhde. Kugy dan Keenan masing-masing telah menemukan cinta di hadapan mereka; akan tetapi cinta yang mereka pernah rasakan dulu seolah tidak dapat dihapus dengan mudah.
Kini di antara Kugy dan Keenan terhampar berbagai macam rintangan yang membuat segalanya terasa mustahil. Mungkin dongeng dan lukisan tidak ditakdirkan untuk bersama. Dan tanpa bisa mengungkapkan perasaannya pada siapa pun, Kugy terus menuliskan surat untuk Dewa Neptunus lewat perahu kertas. Berharap sang Neptunus akan mendengar jeritan hatinya yang tidak pernah terucap.
"Satu-satunya kegiatan menulis yang tersisa hanyalah perahu-perahu kertas yang diapungkannya di kali. Kugy bahkan merasa surat-surat itulah yang membuat dirinya mampu bertahan waras dan kuat. Cerita hatinya pada Neptunus yang entah ada entah tidak. Tak jadi masalah. Setiap kali melihat perahu kertasnya bergerak terbawa arus kali, Kugy kembali bisa bernapas lega."
Baca kisah selengkapnya di Perahu Kertas.
image source: here
Perahu Kertas adalah buku ketiga Dee yang aku baca; setelah sebelumnya pernah membaca Rectoverso dan Madre - yang keduanya adalah kumpulan cerpen. Jadi secara resmi ini adalah novel pertama Dee yang aku baca. Tentu saja aku menaruh ekspekatsi yang cukup tinggi untuk buku ini, karena pertama aku cukup dipuaskan dengan kumpulan cerpen yang aku baca beberapa waktu lalu, kedua; karena Perahu Kertas telah diadaptasi menjadi film (juga menjadi alasan mengapa aku membaca buku ini), ketiga; adalah karena nama Dee yang sudah cukup dikenal banyak orang. Dan untungnya, dengan segala ekspektasi yang aku punya untuk buku ini, aku sama sekali tidak dikecewakan dan berhasil menutup buku ini dengan seulas senyum di wajah.
Awalnya, aku kira cerita ini akan menjadi sebuah kisah teenlit remaja biasa; oleh karena itu dari pertama aku hanya mengikuti aliran ceritanya dan menikmati semua apa adanya. Namun ternyata, perlahan-lahan ceritanya berkembang menjadi lebih rumit daripada dugaanku. Pada bagian inilah aku terpaksa menurunkan setengah rating, karena pada beberapa hal aku merasa bingung dengan keputusan yang dipilih oleh Kugy dan juga dengan situasi yang menjadi kacau balau tersebut. Buku ini pun menceritakan banyak hal; dimulai dari mimpi Kugy dan Keenan, hubungan yang rumit antara keduanya, persahabatan Kugy dan Noni, masalah Keenan dengan Ayahnya, Kugy mengajar di Sakola Alit, berlanjut dengan hubungan Keenan-Luhde dan Kugy-Remi, dan seterusnya. Meskipun demikian, aku selalu merasa bahwa gaya penulisan Dee-lah yang berhasil membuat segala sesuatunya terasa indah, manis, dan menyentuh hati. Gaya bahasa yang digunakan amat sangat puitis, membuat pembawaan ceritanya jadi agak mellow - dan aku pun ikut terbawa suasana. Thumbs up for the writing!
Hal kedua yang membuatku menyukai buku ini adalah karakter-karakternya. Sayangnya, yang menjadi favoritku bukanlah dua karakter utamanya: Kugy dan Keenan. Pilihan karakter favoritku jatuh pada: ♥ Remigius Aditya ♥. Meskipun ia baru muncul di pertengahan cerita, karakternya benar-benar berhasil membuatku jatuh cinta. Dibandingkan dengan karakter Kugy dan Keenan yang sepertinya sedikit 'galau' (in my opinion. tidak akan diperjelas supaya tidak spoiler), aku merasa karakter Remi ini lebih mantap, berprinsip, tegas, sekaligus menyenangkan. Apalagi ungkapan-ungkapan cintanya kepada Kugy menurutku benar-benar terasa tulus dan benar-benar bikin meleleh. No wonder kalau Remi dianggap sebagai the most eligible bachelor.
"Remi lalu membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya pada wajah Kugy. "Ke mana pun itu, dari mulai warung nasi goreng sampai Pantai Sanur... kapan pun itu, dari mulai hari ini sampai nggak tahu kapan, selama bisa bareng sama kamu, saya mau.""
"Kamu memang nggak perlu bilang apa-apa. Sebagai atasan, saya sedih karena kehilangan salah satu anak buah terbaik. Tapi sebagai orang yang mencintai kamu, saya bahagia karena kamu berhasil memilih yang terbaik untuk hidup kamu."
Mengetahui buku ini telah diadaptasi menjadi sebuah film membuatku mengalami semacam dilema. Setelah merasa puas dengan versi buku Perahu Kertas, aku takut jika film adaptasinya akan merusak imajinasi yang ada dalam kepalaku. Karena itulah, sampai saat ini aku belum memutuskan untuk menonton film adaptasinya atau tidak.
Overall, buku ini memuaskan bagiku; definitely a page-turner, dan segala sesuatunya mengalir dengan baik. Di bagian terakhir buku ini, Dee menceritakan inspirasi apa saja yang membuatnya mulai menuliskan cerita Kugy & Keenan ini, dan apa yang ia harap bisa tuliskan. Menurutku, Dee telah berhasil melakukan semua yang ia harapkan dengan sangat baik sekali. Ia berharap bisa menuliskan sebuah cerita yang bersamanya pembaca bisa ikut tumbuh bersama dengan tokoh-tokohnya, menyaksikan mereka bertransformasi dari remaja ingusan menjadi manusia-manusia dewasa; dan itulah yang aku dapat dari buku ini. Setelah membaca Perahu Kertas, aku tidak ragu untuk melahap karya-karya Dee yang lainnya :)
http://thebookielooker.blogspot.no/2012/08/book-review-perahu-kertas-by-dee.html
Book Review: Chairul Tanjung, Si Anak Singkong by Tjahja Gunawan Diredja
Chairul Tanjung, Si Anak Singkong by Tjahja Gunawan Diredja
Judul Buku : Chairul Tanjung, Si Anak Singkong
Penyusun : Tjahja Gunawan Diredja
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : 400 Halaman
Tahun Terbit: 2012
Harga: Rp 49,300 (http://www.pengenbuku.net)
Rating: 3.5/5
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Contoh sederhana bila saat itu saya tidak tahu bahwa ibu sampai rela menggadaikan kain halusnya untuk biaya kuliah, mungkin saya tak ubahnya sama seperti mayoritas mahasiswa. Berleha-leha dan fokus ke mata kuliah utama dan terima begitu saja kondisi yang ada ketimbang berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikan berbagai kesempatan yang muncul di depan mata....
Sudahlah, hidup tak semata memorabilia dan melayang berlama-lama di dalamnya. Yang penting adalah bagaimana langkah ke depan dengan tidak mengulang berbagai kesalahan di masa depan."
Buku ini berisi biografi dan perjalanan hidup Chairul Tanjung - seorang tokoh pengusaha yang sangat dikenal di Indonesia. Meskipun saat ini Chairul Tanjung dikenal sebagai seorang yang sangat sukses dengan berbagai macam usaha yang dimilikinya, tidak banyak yang mengetahui masa lalu seorang Chairul Tanjung dan kepahitan apa yang dialaminya sewaktu masih muda. Dalam buku ini, diceritakan bahwa ia bukan berasal dari sebuah keluarga yang mampu; ia pernah tinggal di lingkungan kumuh Gang Abu dengan berbagai macam permasalahan dan kesulitan. Namun ia tidak pernah menceritakan permasalahannya kepada orang lain; Chairul Tanjung adalah orang yang senantiasa tersenyum, menyembunyikan perasaannya saat orang lain ingin tahu tentang kondisi hidupnya. Ia tahu kedua orangtuanya sudah berusaha keras dan mengorbankan banyak hal, bahkan Ibu-nya menjual kain halus yang dimiliki hanya supaya anaknya bisa melanjutkan kuliah. Mengetahui hal tersebut, Chairul Tanjung berusaha semampunya agar ia dapat membiayai kuliahnya sendiri. Sejak saat itulah dimulai perjalanan seorang Chairul Tanjung menjadi seorang pebisnis yang handal.
Semuanya berawal ketika Chairul Tanjung memulai kuliahnya di UI. Ia sama sekali tidak melewatkan kesempatan yang muncul saat teman-temannya membutuhkan jasa fotokopi. Dengan relasi yang ia miliki, Chairul berhasil mendapatkan harga yang lebih murah dibanding dengan jasa fotokopi yang ada di sekitar kampus. Tidak membutuhkan waktu lama, banyak orang yang menggunakan jasanya; dan saat itulah Chairul mendapatkan Rp 15,000 pertamanya. Dimulai dari bisnis kecil-kecilan tersebut, ia perlahan-lahan berkembang. Tidak hanya urusan fotokopi, ia juga mulai mencari supplier peralatan praktek yang lebih murah - sesuatu yang amat dibutuhkan oleh rekan-rekan kampusnya. Lama-kelamaan, Chairul Tanjung mendapat kepercayaan dari banyak orang, jaringan relasi meluas, dan bisnis yang ia lakukan pun semakin berkembang. Selain dari itu, ia juga adalah sosok yang penuh dengan cita-cita dan visi - membentuknya menjadi pribadi yang ada sekarang ini.
"Molen, saya sangat benci kemiskinan. Tolong tanamkan itu di kepala dan batin kamu juga. Suatu waktu saya bercita-cita ingin memiliki mal, bank, koran, dan televisi."
Saat kuliah memang banyak cita-cita dan harapan yang saya gantungkan setinggi langit. Saya berusaha menggapai semua keinginan tersebut.
Meskipun saat ini Chairul Tanjung dilihat sebagai seorang pengusaha yang sukses, hal tersebut bukan berarti ia tidak pernah mengalami kegagalan. Tidak hanya sekali ia terjatuh dalam berbisnis, akan tetapi ia tidak menjadi pesimis, melainkan memikirkan cara untuk kembali bangkit dan berusaha lebih keras. Dalam buku ini, tidak hanya diceritakan perjuangannya membangun bisnis, tetapi juga menceritakan apa saja yang telah dilakukan Chairul Tanjung untuk negara Indonesia. Biografi Chairul Tanjung ini bisa jadi sebuah inspirasi yang memotivasi, agar setiap orang tidak mudah menyerah hanya karena latar belakang mereka.
"Kalau saja tidak berinisiatif menawar harga tambang, dipastikan es shanghai itu hanya berada pada ruang angan dan tegukan ludah di tenggorokan. Kesempatan tidak hanya dicari, tapi juga diciptakan."
Sebelum membahas lebih tentang buku ini, jujur saja awalnya aku tertarik membaca buku ini saat muncul banyak berita tentang 'ghost writer' yang menulis buku biografi Chairul Tanjung ini (bagi yang belum baca beritanya, silahkan dibaca di: http://indonesiabuku.com/?p=12975). Entah mengapa setelah membaca berita tersebut, muncul rasa penasaran dalam diriku dan keinginan untuk membaca buku biografi yang penuh kontroversi ini.
Chairul Tanjung, tentu saja adalah seseorang yang patut disorot dan aku yakin banyak orang yang ingin mengetahui perjalanan hidupnya. Sekadar informasi umum (bagi yang belum tahu), Chairul Tanjung adalah seorang pengusaha sukses; mempunyai perusahaan dengan nama CT Corp (yang dulunya adalah Para Group) yang terdiri dari beberapa perusahaan lain yaitu: Mega Corp (perusahaan di bidang keuangan, perbankan, antara lain: Bank Mega & Bank Mega Syariah), Trans Corp (perusahaan yang bergerak di bidang media, gaya hidup, dan hiburan, antara lain: Trans TV, Trans 7, Trans Studio, Carrefour, perhotelan, dan department store), dan terakhir adalah CT Global Resources, yang fokus dalam bisnis perkebunan. Sudah merasa cukup familiar? Bagi yang sering nonton channel Trans TV/Trans 7, berbelanja di Carrefour Indonesia, menjadi nasabah Bank Mega, atau bermain ke Trans Studio, Chairul Tanjung-lah pengusaha yang ada di balik itu semua.
Membaca buku ini memberi motivasi yang luar biasa untukku; karena Chairul Tanjung tidak berasal dari keluarga yang mampu, bahkan keluarganya berada di garis kemiskinan pada waktu itu. Akan tetapi Chairul Tanjung tidak pernah mengasihani diri sendiri, melainkan ia berjuang dan berusaha dengan mengambil kesempatan yang ada di depan matanya. Aku dibuat sangat kagum dengan visi dan cita-cita yang ia miliki. Perjuangannya pun tidak selalu mulus, bahkan ia mengakui sendiri bahwa banyak kegagalan dan kesulitan yang harus ia lewati. Keberhasilannya melampaui kegagalan itulah yang membuatku semakin kagum dengan sosok Chairul Tanjung. Oleh karena itu salah satu quote favoritku dalam buku ini adalah tentang kegagalan:
"Menghadapi kegagalan pertama bangkrutnya usaha formal di luar kampus, apakah kemudian membuat saya kalut, takut, takluk, tunduk? Ah, sama sekali tidak. Layar sudah kadung terbentang, pantang pulang jika tiada ombak menghantam menghancurkan seluruh lambung lantas menenggelamkan. Saya masih memiliki kegigihan, kedisiplinan, dan tanggung jawab untuk meneruskan usaha gagal tersebut."
Selain kemampuan bisnisnya, aku juga sangat menyukai sosok Chairul Tanjung yang berintergritas, selalu beramal dan berusaha untuk menyejahterakan masyarakat luas, membangun sekolah bagi masyarakat yang kurang mampu, dan lain sebagainya. Lewat buku ini, dapat diketahui bahwa keberhasilan Chairul Tanjung tidak semata-mata karena dirinya sendiri saja, melainkan juga karena dukungan banyak orang; dimulai dari orangtua, guru-guru, sahabat, dan juga rekan-rekannya. Chairul Tanjung lebih dari sekali mengucapkan rasa terima kasihnya kepada orang-orang yang telah banyak membantunya.
Setelah membahas tentang buku biografi ini, mungkin dipertanyakan mengapa aku hanya memberi rating 3.5? Sedikit catatan, bahwa aku jarang sekali membaca buku biografi, jadi opini ini berdasarkan dari sudut pandangku secara subjektif. Tentu saja aku tidak bermasalah dengan apa yang dituliskan dalam buku ini; menurutku kisahnya sangat inspiratif dan memotivasi, seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya. Hanya saja aku merasa sedikit kecewa karena masa lalu Chairul Tanjung hanya dibahas sedikit; tidak diceritakan secara lengkap masa-masa saat Chairul Tanjung hidup susah. Selain itu, bukunya disusun secara tidak berurutan, dan kebanyakan ceritanya seperti lompat dari satu hal ke hal yang lain. Aku rasa akan lebih nyaman jika ceritanya ditulis secara runtut sehingga tidak menimbulkan kebingungan seperti yang aku rasakan. Mengesampingkan hal tersebut, aku memberikan rating 3.5 untuk sosok Chairul Tanjung yang memang patut diacungi jempol, sekaligus beberapa quote yang menurutku sangat membangun. Mudah-mudahan seperti Pak Chairul Tanjung, di kemudian hari aku pun bisa meraih impian dan cita-cita yang aku miliki sekarang :)) My favorite quotes from this book to end my long review:
"Tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai seperti membalikkan telapak tangan. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, keuletan, kegigihan, dan kedisiplinan. Hal itu juga harus dibarengi dengan sikap pantang menyerah dan tidak cepat putus asa. Semua cita-cita dan ambisi hanya bisa direngkuh apabila kita mau terus belajar berbagai hal, di mana pun dan kepada siapa pun.
Tidak ada hasil yang saya peroleh sekarang tanpa melalui kerja keras, dan jalan yang dilalui senantiasa berliku, penuh onak dan duri."
"Selama 50 tahun perjalanan hidup saya, pengalaman berharga yang saya rasakan adalah saat kita memiliki cita-cita untuk selalu menjadi lebih baik. Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, dan esok harus lebih baik daripada hari ini....
Walaupun berasal dari keluarga miskin dan dibesarkan di lingkungan kumuh di Kota, Jakarta, seperti yang saya alami dulu, bukan menjadi batu penghalang untuk bisa meraih sukses dalam kehidupan. Semua orang berhak untuk berhasil dan mengubah nasib masing-masing serta bebas untuk memiliki cita-cita besar."

.jpg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar